Skip to main content

Dua Kata Yang Mulai Terlupakan

1B-bUQ0WxMa1nFt8rox3WLVVA0yplfod.jpg
Kata – kata adalah suatu bagian dari bahasa, dimana dengan melalui kata–kata, kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan, gagasan diri, atau berbagi cerita dengan sanak saudara serta sahabat kita baik dibawah umur, sebaya maupun yang sudah lanjut usia. Dengan sebuah kata, seseorang dapat menyemangati hidupnya maupun orang lain. Melalui rangkaian kata suatu kelompok kecil mampu menjadi keluarga, dan kelompok yang besar mampu bekerja sama dengan baik. Bagaikan dua sisi mata uang, bagaikan dua sisi mata pisau, sebuah kata mampu memberikan makna kebaikan dan keburukan yang mampu diterima baik diri sendiri maupun orang lain yang mendengarnya. Hanya dengan sebuah kata mampu menjadikan manusia yang kuat mampu terpecah belah dan saling membenci. Perasaan ataupun suatu tali persaudaraan mampu hancur seketika dengan sebuah kata apalagi dalam sebuah struktur kehidupan yang berlandaskan sikap borjuis yang tinggi. Betapa kuatnya kata–kata mampu mempengaruhi sikap dan perilaku banyak orang.
Sebagai komponen dari interaksi kepada orang lain, kata–kata dapat menjadi sarana dalam menjalin persaudaraan walaupun kepada orang yang baru saja dikenal. Ada dua kata yang sangat bermakna, namun keberadaannya seiring zaman mulai terlupakan. Kekuatannya dimasa lalu kini pun mulai rapuh karena digerus oleh sikap individualis dan berkurangnya sikap saling menghargai. Dua kata itu adalah maaf dan terima kasih.
Hal yang sederhana jika kita mampu mengatakan dua kata tersebut di dalam kehidupan sehari–hari kita. Namun cobalah sejenak kita membayangkan betapa senangnya dan leganya hati seseorang jika mengatakan dua kata itu. Persaudaraan yang mampu muncul secara perlahan dengan cara yang baik dari dua orang yang tidak saling mengenal dan baru saja berjumpa beberapa saat, dapat menjadi sahabat akrab yang selalu menemani di setai waktu kita. Perasaan yang nyaman akan timbul di diri kita jika telah mengungkapkan kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan tersebut. Walaupun tidak melakukan kesalahan yang disengaja, mengucapkan kata maaf merupakan bentuk rendah hati kita terhadap orang lain. Rasa tinggi hati yang terperangkap dan menjelma di hati kita mulai perlahan menghapus dua kata tersebut hingga era ini.
Tak lupa begitu pun juga dengan kata terima kasih adalah kata-kata yang kita ucapkan sebagai bentuk rasa hormat kita terhadap orang lain, baik telah dibantu dalam hal materil ataupun hal lainnya yang mampu bermanfaat untuk diri kita maupun kemaslahatan umat banyak. Kata terima kasih juga sebagai sarana dalam mengingat diri kita sebagai makhluk sosial karena kita tak mampu hidup sendiri di dunia ini. Selalu ada orang lain di balik kehidupan kita baik secara langsug maupun tak langsung. Sikap tolong–menolong akan terjalin melalui ucapan terima kasih karena setiap pihak merasa saling membutuhkan.
Setelah merasakan manisnya cerita singkat dari dua kata yaitu maaf dan terima kasih, rasa pahit pun muncul ketika melihat lingkungan sosial disekitar kita sekarang ini. Pakah dua kata tersbeut masih ada sampai saat sekarang? Jika iya, apakah mereka masih memiliki kekuatan sampai sekarang? Memang benar kedua kata tersebut masih ada sampai saat sekarang. Setiap manusia di muka bumi ini pun masih mengenal kedua kata tersebut. Namun penggunaannya saat ini mulai pudar karena sikap individual yang meningkat, iri, dengki, tak mau mengalah adalah beberapa faktor yang mendasari tak akan munculnya dua kata itu dengan ikhlas dari hati yang terdalam. Dengan kata yang sederhana itu dapat berkurang eksistensinya malah bahkan takkan lagi dikenali oleh generasi muda selanjutnya.

Zaman ini yang sudah memiliki banyak polemik, bahan dari segala umur pun mulai terjerat baik secara terlihat ataupun yang bersembunya dalam kegelapan. Kepentingan pribadi bermunculan, pertikaian, sikap kritis yang didasari dari ketidakpercayaan yang berlebih membuat negara ini semakin terguncang. Lepaskanlah baju keburukan yang ada di diri kalian semua, baik dari kalangan muda, maupun kalangan tua. Baik dari kalangan pejabat yang memiliki sikap borjuis yang tinggi namun tak menghiraukan generasi muda yang setiap hari melangkahkan kaki untuk menjadi generasi yang elbih baik demi menggantikan dirimu menjadi pemimpin yang lebih baik. Kami ini adalah penerus generasi kalian, kalian tak akan selamanya memikul beban untuk membanggakan negara ini, ada saatnya bagi kami para pemuda menunjukkan sepak terjang yang telah kami ukir dari sejak usia muda untuk negeri tercinta, untuk ibu pertiwi agar tak menangis lagi.
“ MEMINTA MAAF BUKAN BERARTI KAMU SALAH DAN ORANG LAIN BENAR. TAPI KARENA HATIMU BERNILAI LEBIH TINGGI DIBANDIINGKAN DARI EGOMU “
            Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS. An-Nur, 24 : 32)

Comments