Perhelatan akbar aksi mahasiswa Seluruh Indonesia yang terhimpun ke dalam 60 lebih seluruh universitas Seluruh Indonesia yang berjumlah sekitar 4000 – 5000 mahasiswa yang ingin memperjuangkan hak rakyat yang sudah terkandaskan setelah 3 tahun pemerintahan Jokowi – JK. Aksi ini juga dihadiri oleh massa dari Persatuan Buruh Metal Se Indonesia yang juga menuntut akan layanan kesehatan yang hanya menjadi momok pencitraan dari seorang Presiden agar masyarakat merasa media tersebut mampu membuat masyarakat terfasilitasi. Namun masih ada saja layanan kesehatan yang menimbulkan korban teruatama untuk para buruh dalam menerima layanan kesehatan yang baik.
Aksi damai mahasiswa ini dilakukan pada hari Jum’at, 20 Oktober 2017 tepat pada 3 tahun Jokowi – JK menggulingkan program kerja Nawa Cita dan tepat 3 tahun mereka mengurus negeri ini dengan banyaknya problematika yang terjadi. Perhelatan akbar aksi mahasiswa sleuruh Indonesia ini berkomitmen untuk menjadi satu dalam menegakkan keadilan di negeri ini. Kejadian yang terjadi di akhir Aksi damai dan sidang rakyat ini membuat kami mahasiswa menyadari bahwa di negeri ini yang namanya demokrasi mampu dibungkam. Dibungkam dengan aparat yang menganggap kami layaknya teroris, penggaggu, dan seorang kriminal. Namun kami ahanya ingin bertemu dengan Bapak kami, kami yang memilih dia, bukankah kita Mahasiswa yang akan menggantikanmu kelak menjadi pemimpin bangsa? Tapi kau mangkir dari kunjungan kami di Istana Negara.
Apakah bangsa ini masih dalam keadaan baik – baik saja? Almamater mahasiswa dari seluruh penjuru negeri sudang turun ke jalan menandakan bahwa ada yang salah dengan negeri kita. Namun selalu saja pemberitaan dari beberapa media yang pro dengan pemerintah yang hanya menyebutkan kebaikan pemerintah saja untuk pencitraan belum tentu sepenuhnya benar.
Aset bangsa ini menjadi korban yaitu Mahasiswa. Mahasiswa yang datang ke istana hanya bermodalkan diri yang semangat untuk bertemu pemimpin Negara ini, pemuda yang selalu mengkaji dampak dan kebijakan pemerintah terhadap rakyat, embawa almamater yang membuktikan intelektualitas kita sebagai mahasiswa, tanpa perlawanan apapun dan kami tak pernah ricuh karena kami kaum ientelektual yang haus akan keadilan untuk Bangsa Indonesia. Namun apakah ini yang dibalas untuk kami aset negara yang paling berharga? Diberi hadiah pukulan hingga memberi luka, memar, diseret, dan kami tidak mau membalas karena kami tahu kalian dibayar dari uang orang tua kami. Uang yang dihasilkan oleh pajak para masyarakat yag semakin mencekik akibat hutan negara yang semakin membumbung tinggi, dan selalu melakukan pencitraan dari segi infrastruktur yang dikembangkan untuk para kalangan borjuis.
Asas demokrasi kini dibungkam akibat adanya upaya tebar jala dan perintah petinggi yang kami duga sebagai provokatif akibat adanya aksi mahasiswa 20 Oktober 201. Sudah jelas pemerintah taku terhadap mahasiswa, bukannya bapak bilang sendiri akan menemui kami? Dan kalau bertemu akan menyuruh kita masuk? Yaps benar masuk ke dalam penjara layaknya ke empat teman kami yang menjadi tersangka dan satu sudah menjadi tahanan. Mahasiswa itu adalah M. Ardi Sutrisbi (IPB/Korlap Aksi/Tahanan Polisi), Ihsan (STEI SEBI), Panji Laksono (IPB/Korsu Agraria BEM SI), dan Wildan (UNS/Korpus BEM SI). Mereka dijerat oleh hukum yang bersifat tebar jala, tidak mengenai satu hukuman akan mengenai hukuman lainnya serta berlapis. Apakah ini cara negara mendidik generasi penerus bangsa?
Hal ini membuat kami tidak bisa tinggal diam saja selaku mahasiswa, kami menuntut bapak Joko Widodo dalam hal ini :
1. Mengutuk tindakan represif aparat terhadap aksi damai mahasiswa
2. Mendesak aparat kepolisian untuk membebaska seluruh rekan – rekan mahasiswa yag ditahan akibat aksi damai tersebut
3. Tuntaskan program nawa cita, dan pertemukan kami dengan Presiden Joko Widodo dengan Seluruh mahasiswa yang melakukan aksi damai kemarin.
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah
Bertanah Air Satu
Tanah Air Tanpa Penindasan
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah
Berbangsa Satu
Bangsa yang Gandrung akan Keadilan
Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah
Berbahasa Satu
Bahasa Tanpa Kebohongan
“Dizamanku jauh lebih mudah dibandingkan zamanmu. Karena dizamanku lebih mudah hanya melawan penjajah. Namun dizamanmu lebih sulit karena kamu akan melawan orang – orang dari negaramu sendiri (Ir. Soekarno)”

Comments
Post a Comment