Skip to main content

“ Tepian Desa itu Tolouwi “



“ Tepian Desa itu Tolouwi “
Ds. Garou, Desa Tolouwi, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima
Nusa Tenggara Barat
Tahun 2018

Bima adalah salah satu kota atau kabupaten yang terletak di tepian Provinsi Nusa Tenggara Barat atau biasanya juga disebut dengan Kota Tepian Air. Kabupaten Bima adalah salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah khususnya dalam hal pertanian dan kemaritiman. Kabupaten Bima adalah salah satu kabupaten yang memiliki dataran tinggi yang lebih banyak didominasi pegunungan kapur dan juga mineral yang saat ini sudah banyak digerus oleh petambang batu maupun kerikil untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu ciri khas dari Kabupaten Bima adalah kain tenun yang terbuat dari sutera yang terbuat dari bahan yang didapatkan langsung dari daerah ini. Selain kain tenun yang biasanya dibuat menjadi sarung atau baju ini, kabupaten Bima pun terkenal akan melimpah ruahnya saat ini yaitu hasil ikan khususnya cakalang dan tongkol. Dari ikan tersbeut, muncul juga hasil lainnya yaitu rumput laut Sargassum sp. atau yang biasa disebut disini yaitu Gose. Daerah Bima selain memiliki sumber daya alam yang melimpah juga memiliki bahasa daerah yang unik dimana setiap kata yang terucap semuanya terdapat huruf vokal tidak ada huruf mati. Meski logat bahasa orang Bima disini cenderung cepat dan juga keras, namun jika sudah merasa dekat hal tersebut sudah tak terasa lagi. Keramahan dari sikap mereka pun tertanam di dalam hati, karena kita semua satu nusa satu bangsa. Satu bahasa, satu tanah air kita yaitu Indonesia.

Kabupaten Bima mampu ditempuh oleh jalur darat, laut, maupun udara. Jalur darat bisa melalui Bus dari jurusan Surabaya – Denpasar – Bima yang dihubungkan juga oleh jalur laut dengan kapal feri. Selain itu jikalau jalur udara sudah sangat terjangkau yaitu turun di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin meski tergolong bandara yang menampung pesawat kapasitas kecil yaitu bandara penghubung sudah sangat cukup untuk bepergian. Setelah kami mengetahui semua hal terssebut langkah kaki kami pun dimulai dari Kota Urban nan megah penuh dengan hiruk pikuk kegiatan metropolitan yaitu Kota Jakarta. Keberangkatan kami mulai pukul 05.00 WIB dan melakukan transit di Denpasar serta melanjutkan kembali perjalanan ke Bima hingga sampai pukul 10.45 WIB. Kami disambut dengan hangat oleh Ibu Siti Jubaidah selaku fasilitator kami di Bima khususnya Desa Tolouwi, Dusun Nggaro yang saat ini beliau menjadi Kepala Sekolah SD Inpres Toluwi. Bersama rekan lainnya yaitu Pak Didi selaku adik iparnya sekaligus guru dan pengusaha hebat di Dusun Nggaro, dan Pak Leo (Pak Rusli) selaku Wakil Kepala Sekolah menjemput kami secara langsung di Bandara. Di kabupaten Bima khususnya dalam memanggil orang yang lebih dituakan khususnya sesama orang Bima memiliki panggilan khusus tak terlepas dari kata dasar dari namanya. Contoh Ibu Siti Jubaidah dipanggil sopannya Ibu Bodi diambil dari kata Baidah, kemudian pak Leo dari kata Li nama Rusli. Namun tidak semua mampu diberikan sebutan panggilan berbeda tersbeut hanya nama – nama tertentu saja dan mereka lah yang membuat itu sendiri karena memang adat istiadat dari Kerjaan Bima terdahulu hingga kini masih melekat.

            Sepanjang perjalanan pemandangan indah menghiasi perjalanan kami menuju Desa Tolouwi yang terhampar luas di kanan kiri baik itu pegunungan hijau, serta hamparan padi dan bawang merah yang sedang asyik tumbuh dan berkembang. Nantinya hasil tersebut mampu menghidupi setiap masyarakat yang ada di sekitarnya dengan kebermanfaatan yang begitu besar. Sembaring perjalanan kami pun sempat bertanya – tanya mengenai jarak tempuh dari Bandara ke Desa kurang lebih 15 menit katanya. Namun pada saat perjalanan cukup lah terjal dan juga kecepatan mobil pada saat itu memang maksimal terlebih lagi jalan sudah diaspal namun banyak lubang yang menghadang perjalanan kami. Sampai lah kami di tempat tujuan yaitu di SDN Inpres Tolouwi yang menurut kami sangat lah tidak terawat, tanda nama SD Inpres sudah rusak serta hilang, pagar nya rusak, halaman depan tak terurus, bangunan yang sebagian besar mengalami kerusakan, dan juga banyak hewan khususnya kambing yang keluar masuk. Kami datang disambut oleh beberapa anak kecil yang sekaligus membawakan barang bawaan kami karena waktu sudah menunjukkan kami harus segera pergi Sholat Jum’at. Kami pun melangkahkan kaki ke Masjid terdekat di Desa tersebut. Sesampai di dalam masjid seketika para warga menatap kami dengan penuh rasa ingin tahu terutama anak – anak kecil yang terus menatap kami sambil tertawa seakan kami adalah makhluk asing yang datang dari planet lain jatuh langsung ke Desa tersebut.

Seusai kami melaksanakan ibadah Sholat Jum’at kami langsung menuju ke SD Inpres Tolouwi dan diarahkan tepat di belakang sekolah ada sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat dua ruangan. Satu ruangan pertama besarnya luas dimana itu adalah ruang bersama, dan satu lagi adalah ruang kamar tidur untuk kami bertiga. Di dalam bangunan tersebut ada beberapa guru yang sudah siap menyambut kami yaitu Ibu Hadu (Wahidah), Ibu Lamu (Salama), Bapak Haerudin (Edo) dan Bapak Rao (Asri). Mereka sudah menyiapkan apa yang ada di dalam kantor tersebut untuk tempat tinggal kami, sungguh kebaikan yang begitu besar saat kami datang ke sekolah ini. Meskipun saat kami masuk ke kamar serbuan tentara nyamuk menghampiri kami takkan menggoyahkan semangat kami untuk memberikan kebermanfaatan disini. Hunian yang layak dan nyaman serta keramahan guru dan anak – anak yang menyambut kami membuktikan bahwa sangat besar harapan mereka kepada kami untuk melakukan perubahan yang lebih baik di SD Inpres Tolouwi ini yang sudah berdiri sejak 1980 – an.

Tak terasa hari pun terus berganti, tamu – tamu pun mulai lalu lalang ke tempat kami hanya untuk melihat siapa kami sebenarnya, dan tak lupa juga kami mengunjungi beberapa tokoh yang ada di desa ini baik itu RT, RW Kepala Dusun dan Juga Kepala Desa yang sudah bertemu di awal hari kedatangan kami di rumah makan dekat bandara. Sebelum masuk sekolah, anak – anak pun beberapa sudah ada yang mengunjungi kami sekedar berkenalan dan bermain bersama kami untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap orang baru yang sudah datang ke Sekolah mereka. Antusias anak – anak dan keramahan serta gelak tawa menyelimuti hari pertemuan kami pada saat itu yang membuat kami sudah banyak mengenal beberapa yang sekolah di SD Inpres Tolouwi ini. Tak lupa juga masyarakat sekitar pun sering kami sapa sembaring kami berjalan menyusuri desa ini untuk membeli beberapa perlengkapan. Ada yang menyebut kami KKN, atau magang dsb mampu kami dengar dari beberapa orang termasuk ketua RW yang rumahnya tepat disamping sekolah kami sekaligus membuka warung perlengkapan kebutuhan sehari – hari. Tibalah kami sampai di hari pertemuan bersama anak – anak di SD Inpres memperkenalkan siapa diri kami, dan apa yang akan kami lakukan selama satu bulan ini. Semangat untuk memperhatikan, tidak bisa diamnya anak – anak masih dibawah umur ini membuat kami mampu memperbaiki diri ini. Keadaan daerah disini, metode memupuk mental anak – anak, gelapnya desa ini disaat malam hari datang menghampiri kami, kesejahteraan guru – guru serta masyarakat yang belum mampu dikategorikan layak. Namun semua hal tersbeut masih mampu dihiasi oleh senyuman manis mereka, senyuman khas ala – ala orang Indonesia timur membuat kami sanggup berjalan disamping mereka untuk perubahan yang lebih baik.

Titis Pratiknyo
Marching For Boundaries (Agustus 2018)
Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa

Comments