Skip to main content

“ Tolouwi Tersirat dan Tersurat “



Sekolah Dasar Instruksi Presiden Tolouwi atau biasa yang disebut dengan SD Inpres Tolouwi adalah salah satu SD yang terdapat di Kecamatan Monta Dalam. SD Inpres Tolouwi berdiri sejak 1 Juli 1980 ini terdapat di Dusun Nggaro, yang secara umum masih terlihat dan terdefinisikan sebagai Sekolah Dasar yang berada di urutan terbawah se Kecamatan Monta. Dibalik keterpurukan SD Inpres ini memiliki ciri khas tersendiri dimana banyak tanaman yang menghiasi di pekarangan Sekolah namun tak tertata rapi, daerah yang diapit oleh 3 gunung di sekelilingnya yang membuat suhu menurun hingga beberapa derajat celcius di malam dan pagi hari. Gunung yang mengapit daerah ini adalah Waikan Cio, Io Lanco, dan Oi Nohi terhampar luas jika dilihat dari sudut belakang sekolah yang menghubungkan langsung dengan petak sawah. Di sudut depan sekolah ini terhampar luas lapangan desa yang sering digunakan masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama sehingga sangat mudah akses dari sekolah ini ke masyarakat. Fasilitas SD Inpres memiliki 6 ruang kelas yang masing – masing dikhususkan untuk kelas sederajatnya. Selain itu terdapat 3 ruang yang dialih fungsikan yang awalnya ruangan kepala sekolah namun sekarang hanya ruang kosong, menjadi rumah singgah, dan juga sudah ada ruangan kantor yang di dalamnya terkumpul semua guru dan perpustakaan yang kecil. Selain itu ada beberapa bangunan yang keadaannya rusak parah awalnya berfungsi sebagai rumah jaga dari sekolah tersebut sejak awal berdirinya sekolah ini. Di belakang sekolah juga terdapat lahan kecil dan sumur tua namun tak terawat hingga saat ini karena perencanaan pembangunan tidak mampu terselesaikan sampai sekarang. SD ini memiliki sumber daya manusia berupa guru – guru yang cukup bersemangat dan juga humoris. Total guru disini ada 14 orang diantaranya 10 orang masih sukarela dan 4 orang sudah PNS tersertifikasi. Guru – guru tersebut yaitu Ibu Siti Jubaidah (Bodi), Ibu Salama (Lamu), Ibu Aminah (Mene), Bapak Ruslin (Leo), Bapak Haerudin (Edo), Bapak Fahmi (Fahi), Bapak Didi, Bapak Fadli (Fai), Bapak Najamuddin, Bapak Asri (Rao), Ibu Wahidah (Hadu), Bapak Abubakar, Bapak Zaini, dan Pak Ismail (Pensiun 1 tahun lalu). Sekumpulan guru ini mengurus dan membina siswa – siswi di sekolah ini sebanyak 171 (Kelas 1 = 43 siswa, Kelas 2 = 32 siswa, Kelas 3 = 25 Siswa, Kelas 4 = 27 Siswa, Kelas 5 = 21 Siswa, Kelas 6 = 33 Siswa) yang ada setiap harinya. Namun dari total siswa tersebut bukanlah hal yang mudah karena hampir sebagian besar hanya didaftarkan sekolah saja, ada yang tidak mau masuk, dan juga masih di bawah umur masuk Sekolah Dasar.
Profesionalitas dari seorang tenaga pengajar tidak lah mampu kita intervensi secara besar karena masih banyak guru yang suka rela dengan upah yang sederhana yaitu sebulan sebesar 300 ribu rupiah. Mungkin hanya beberapa guru saja yang mampu profesional dalam mengajar karena memang mereka sudah PNS. PNS disini pun dari segi upah pun terbagi kembali dari rentang lama pengabdian mereka semua. Kesulitan terbesar di daerah ini khususnya di dalam segi Pendidikan adalah kurangnya peran masyarakat terhadap anak – anaknya yang bersekolah sehingga masih minimnya sebagian besar siswa maupun siswi yang masih tidak bisa membaca dan menulis. Ketidak mampuan hal tersebut merata dari kelas 1 sampai kelas 6, ada juga yang sulit menghitung, dan sebagainya. Permulaan dari kelas 1 disini masih kental akan bahasa Ibu yaitu bahasa Bima. Awal mula mencoba mengajar di kelas satu sangat lah sulit, mereka belum tahu caranya menulis dan membaca tetapi masih ada hitungan jari siswa yang sudah baik membaca dan menulis. Usut di usut ternyata ada yang masih di bawah umur yaitu 3 tahun sudah masuk kelas 1 SD, dan juga masih kurangnya belajar pada saat sepulang sekolah. Mereka yang tidak kembali mengulang pelajaran di sekolah lebih diutamakan untuk membantu orang tua untuk bertani dan juga mengambil rumput laut di Pantai Wane. Tapi keimutan dan kelucuan anak kelas 1 SD ini membuat kami tetap nyaman di kelas ini. Baik itu kelas 1 sampai kelas 3 SD masih tidak memiliki perbedaan yang terlalu besar dibandingkan sebelumnya. Namun terus bertambah seiring kenaikan kelas yang mampu menulis dan juga membaca.
Menuju kelas selanjutnya yaitu kelas 4 sampai dengan kelas 6. Rata – rata dari ketiga kelas ini memiliki keadaan yang cukup miris dimana masih banyaknya siswa yang membaca kalimat di dalam buku masih mengeja per huruf dan masih belum lancar. Dimana seharusnya menurut kurikulum yang berlaku saat ini, mereka dari ketiga kelas tersebut sudah mahir membaca dan juga menulis. Sehingga ke depannya mampu mengasah kembali ke tahap selanjutnya yaitu menganalisa dan juga memaparkan suatu hal atau berita yang disajikan. Hasil pengamatan yang ada membuat kami memutuskan untuk membuatkan modul tersendiri untuk mereka mampu menyesuaikan pelajaran yang ada di sekolah dengan akselerasi cepat selama kurang lebih tiga minggu berjalannya modul tersebut. Terdapat 4 tahap modul yang dibuat oleh kami saat ini dimana tahap pertama khusus untuk mengenal dan menulis huruf maupun angka, tahap kedua mampu membuat kalimat dan berhitung, tahap ketiga yaitu lebih kepada menggambarkan suatu kejadian dan berita, serta tahap khusus yaitu mampu membuat soal matematika dan menganalisa suatu gambar ataupun kejadian yang ada. Kekurangan yang mereka miliki semua itu akan luput hingga mereka keluar dari kelas mereka masing – masing. Keceriaan, tingkah laku, dan juga canda tawa ini lah yang tak mampu dirasakan di kota – kota besar yang saat ini sudah maju didepan mereka semua. Mereka semua polos dan juga menyenangkan karena sederhana mengikat mereka di dalam kehidupan sehari – hari. Guru – guru pun disini merasa senang mengajar mereka sampai saat ini, karena para siswa memiliki karakternya masing – masing, ada yang pintar dalam bersandiwara agar dia bisa diizinkan pulang, ada yang hanya mau diajari oleh satu guru jika guru lainnya masuk dia akan menangis, berangkat sekolah tidak mandi sehingga disuruh mandi langsung disekolah, dan lain – lainnya mampu menjadi bumbu kehidupan yang menjadikan kenyamanan menjadi terasa bersama Siswa – Siswi. Selain metode modul ajaran yang kami berikan, setiap metode pendidikan baik itu permainan dan pemberian apresiasi untuk meningkatkan semangat mereka untuk datang ke sekolah kami lakukan. Memang mereka masih anak kecil, setiap siswa yang mendapatkan apresiasi pasti ada kecemburuan yang menggemaskan dari beberapa siswa. Rasa malu saat diberikan apresiasi, serta malu untuk berbicara dengan kami adalah salah satu tantangan kami untuk mengentaskan itu semua. Karena kami tau dan menyadari bahwa saat ini kami berada disini hanya untuk mereka. Para siswa yang masih semangat untuk mau belajar, bersekolah, dan juga untuk meningkatkan taraf pendidikan di sekolah ini untuk generasi masa depan yang lebih baik.



Titis Pratiknyo
Alumni Beasiswa Aktivis Nusantara Angkatan 7
Dompet Dhuafa

Comments